PUBLISHED BY

alamuda

DESIGNED BY

jangan paksa aku berjalan jika aku ingin terbang

01 Maret 2009

KONGRES PEREMPUAN KALIMANTAN PERTAMA

Saatnya perempuan bersuara,perempuan bergerak untuk perdamaian dan keadilan di kalimantan. Begitulah sepenggal kalimat sebagai penghias bunga yang dibagikan para perempuan disekitar bundaran UNTAN tepat jam 2 sore kemarin. Kegiatan ini di gelar pada tanggal 26-28 februari 2009 di Hotel Merpati. Massa perempuan bergerak dari tempat kegiatan menuju bundaran dengan berjalan kaki menempuh perjalanan kurang lebih setengah kilometer. Perempuan yang bergerak menuju bundaran Universitas Tanjungpura tersebut dikelompokkan dengan berbagai identitas diri seperti Perempuan Petani,Perempuan Masayarakat Adat, Perempuan Buruh, Perempuan Pedagang Kaki Lima/Usaha Kecil, Perempuan Miskin Kota, Perempuan dalam Sistim Pemerintahan, Guru Perempuan, tetapi tetap saja identitas umum perempuan dimasyarakat dikenal dengan sebutan Ibu Rumah Tangga, dan secara terpisah diberangkatkan dengan empat kloter komisi yang nantinya akan memnuhi empat sudut tugu bundaran Universitas Tanjungpura dlaam menyuarakan hak nya sebagai perempuan.

Harapan perempuan dalam Kongres Perempuan Kalimantan pertama ini adalah perempuan berani bersuara dan maju bersatu dalam jaringan untuk perdamaian dan keadilan. Harapan ini dirumuskan oleh seluruh peserta kongres setelah malam keakraban 25 februari 2009 kemarin. Menurut Nurfauzah dari Sekuduk, baginya damai adalah dapat makan, ibu-ibu bisa menyekolahkan anaknya, hidup sehat, punya pendapatan layak, tidak ada kekerasan, terlibat dalam membangun desa dan tentunya dapat berkumpul seperti ini (maksudnya melakukan pertemuan kelompok/diskusi bulanan) untuk saling berbagi informasi dan cerita.

Sesuai runut kegiatan, di mulai dengan penyambutan Deputi Kementrian Komisi Pemberdayaan Perempuan Dra. Sri Danti, Ma di pelataran Hotel Merpati tempat kegiatan kongres Perempuan Kalimantan berlangsung, di sambut meriah dengan tarian penyambutan tamu oleh penari sanggar SAPE’ serta pengalungan selendang kain tenun ikat sintang oleh dua orang perwakilan panitia pelaksana dengan mengenakan baju adat dayak sebagai perwakilan khas kalimantan, penari mengantar Deputi Kementrian menuju tempat duduk yang telah disediakan.

Narasumber yang di undang dalam seminar sehari ini antara lain, Silvana, Julia Kham dari Institute Dayakology, Dra.Sri Danti,MA selaku Deputi Kementrian Bidang Pemberdayaan Perempuan yang membahas Kebijakan Nasional tentang Hak Hak Perempuan untuk Perdamaian dan Keadilan Gender, Tekla Tirah Liah dari Yayasan Nurani Perempuan dengan materi Perempuan Merajut Perubahan, dan Elen peserta dari Kabupaten Landak sebagai salah satu perwakilan peserta berbagi cerita tentang Hak Perempuan dalam Keluarga dan Masyarakat dalam seminar sehari yang di gelar sehari setelah pers release oleh Panitia Pengarah dan wartawan di berbagai media lokal.

Dalam seminar sehari tersebut, diadakan Tanya jawab antara narasumber dan peserta seminar. Seperti halnya ibu Tri dari Kabupaten Bengkayang yang bertanya tentang korban yang melapor apakah dijaga kerahasiaannya oleh Bimbingan Konseling. Yuliati dari kabupaten sanggau dan Susana dari KWI Keuskupan Agung Pontianak menanyakan langkah–langkah apa saja agar tidak terjadi kesenjangan dan sejauh mana peran serta pemerintah dalam merealisasikan perdamaian dan keadilan gender di Kalimantan serta peserta lain yang menanyakan tindak lanjut Forum Pemberdayaan Wanita.

Menurut Julia Kham, salah satu panitia pengarah mengatakan bahwa kegiatan Kongres Perempuan Kalimantan Pertama ini merupakan mandat dari Konsultasi Regional Kalimantan II ( KRK II) diadakan bulan Mei 2007, yang diselenggarakan oleh Aliansi NGO untuk Perdamaian dan Rekonsiliasi (ANPRI). Menurutnya pula bahwa damai merupakan proses pemenuhan hak-hak asasi sosial, budaya, ekonomi, lingkungan dan politik seluruh kelompok masyarakat secara adil, terutama perempuan.

Tekla menuturkan tentang Periode perintis (1997-1999), diskusi formal maupun informal 10 orang perempuan sebagai bentuk upaya membangun kesadaran yang “sesungguhnya” yang dalam konteks gerakan perempuan tidak tersentuh, fakta bahwa persoalan perempuan terjadi dan di alami perempuan setiap detik kehidupannya. Keterlibatan peran perempuan sebagai pemelihara bumi dalam konteks pertanian tetap menjadi tradisi di akui oleh adat maupun masyarakat (laki-laki). Juga di dalam kehidupan lain seperti mengurus rumah tangga dan pekerjaan rumah lainnya.

Menurutnya pula bahwa kaum perempuan perlu meningkatkan daya kritis terhadap isu-isu lingkungan, isu perdagangan perempuan dan anak-anak, isu tata kelola pemerintahan serta terlibat dalam perencanaan dan penganggaran daerah. Jika itu terwujud maka muncul bentuk kesadaran dan keyakinan melakukan tindakan bersama (kaum perempuan sebagai pemilik kepentingan), untuk keluar dari berbagai bentuk ketidakadilan. Gerakan tersebut akan lebih luas dari kegiatan organisasi. Gerakan terus bertumbuh menuju arah cita-cita yang lebih besar dan jangka panjang dalam tatanan hidup yang berkemanusiaan dan bermartabat.

Menurut kepala badan pemberdayaan perempuan, anak, masyarakat dan keluarga berencana provinsi kalimantan barat di sela presentasinya menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah provinsi dalam mendorong hak-hak perempuan untuk perdamaian dan keadilan perempuan Kalimantan Barat pada umumnya tidak terlepas oleh budaya Pemenuhan kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan), Kegiatan usaha produktif, Akses terhadap sumberdaya sosial dan ekonomi, Pembebasan diri dari mental dan budaya miskin menurut penggolongan kualitas hidup manusia.

Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan dilakukan dengan menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan untuk menuju kesetaraan dan keadilan gender dengan memahami Konvensi CEDAW yang diratifikasi dengan UU No.7 Tahun 1984 Tentang Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita. UU ini merupakan Payung kebijakan yang terkait dengan 12 kritis Aksi Beijing hasil konferensi tahun 1995, juga sebagai landasan operasional MDG’s.

Terlepas dari semua itu, dalam realitasnya juga perempuan (terutama wilayah pedesaan) adalah pelaku utama sektor pertanian, namun umumnya, perempuan tidak memiliki akses dan kontrol secara langsung kepada alat produksi dan hak untuk mengambil keputusan. Peran perempuan disini sebagai penyedia pangan keluarga. Kondisi inilah yang mendasari kegiatan Kongres Perempuan Kalimantan pertama ini dan menggali potensi yang dimiliki oleh kelompok masyarakat perempuan, di samping membangun mitrakesejajaran dengan kaum laki-laki. Tidak hanya pangan, perempuan juga dibebani dengan permasalahan traficking, kekerasan dalam rumah tangga dan kurangnya akses pendidikan dikalangan perempuan.

Pemicu dari hal-hal tersebut adalah mengakar budaya patriarkhi (budaya yang menomorsatukan kaum laki-laki di segala bidang kehidupan, sehingga mensubordinasikan perempuan dengan memposisikan pada wilayah domestik). Proses sosialisasi budaya patriarkhi terjadi pada kehidupan pribadi sehari-hari seperti di dalam keluarga; Masyarakat dan Negara, sehingga secara sadar ataupun tidak terjadinya diskriminasi, ketidakadilan terhadap sebagian besar perempuan. Lelaki dan perempuan memang berbeda tetapi tidak untuk dibeda-bedakan, menurut Ibu Dra.Sri Danti,MA selaku Deputi Kementrian Bidang Pemberdayaan Perempuan.

Kemudian keesokan harinya di gelar Kongres yang terbagi atas empat Komisi yang membahas tentang visi misi, program kerja sebagai awal dari tindak lanjut kegiatan dari Kongres Perempuan Kalimantan ini.

Keesokan harinya, parade kemudian dilaksanakan setelah makan siang selesai, tepatnya jam dua sore. Para peserta dan panitia bersama-sama turun kejalan dengan berjalan kaki menuju bundaran Universitas Tanjungpura.

Theresia hanya, seorang ibu delegasi dari Kalimantan Timur berkali-kali menyerukan orasi tepat di bundaran UNTAN dengan mengajak para peserta untuk bersama-sama menegakkan hak perempuan dengan lagunya yg berjudul tarian sobat. "sobat sekalian,selamat bertemu ditempat ini. Tunjukkan persatuan sejati. Inilah jalan lurus, tujuan perdamaian dan menghasilkan segala kemajuan." Setelah orasi dan pembagian bunga selesai,peserta memenuhi lingkaran bundaran dengan bergandeng tangan dan sesekali mereka berteriak hidup perempuan.

Seorang polisi menghampiri aksi itu dan bergumam kepada salah satu panitia komisi A, katanya "istri saya dirumah tidak dikekang, malah saya bebaskan dari segala tugas rumah, tapi tetap aja saya was was kalo liat aksi kayak gini, takut istri berontak minta haknya". Nah lo, pak polisi tetep aja mikir kok bisa aksi kayak gini dipentaskan dibundaran Universitas Tanjungpura.

0 tanggapan: