10 Januari 2012
07 Januari 2012
23 November 2011
RENUNGAN
Lucu ya,
uang Rp 20.000,-an kelihatan begitu besar
bila dibawa ke keranjang kolekte,
tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket
Lucu ya,
60 menit terasa terlalu lama untuk berdevosi,
tapi betapa pendeknya waktu itu
untuk bermain internet
Lucu ya,
betapa lamanya 2 jam berada di Gereja,
tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu
saat menikmati pemutaran film di bioskop
Lucu ya,
susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau teduh,
tapi betapa mudahnya
cari bahan obrolan bila bertemu teman
Lucu ya,
betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan bola favorit kita,
tapi betapa bosannya bila imam/romo kelamaan khotbahnya.
Lucu ya,
susah banget baca Al-Kitab 1 ayat aja,
tapi novel best seller 100 halamanpun habis dilahab
Lucu ya,
orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser
tapi berebut cari shaf paling
belakang bila Minggu di Gereja agar bisa cepat keluar
Lucu ya,
kita perlu undangan Doa Kring 3-4
minggu sebelumnya agar bisa disiapkan di agenda kita,
tapi untuk acara lain jadwal kita gampang diubah seketika
Lucu ya,
susahnya orang mengajak partisipasi untuk Kebangkitan Orang Muda,
tapi mudahnya orang
berpartisipasi menyebar gosip
Lucu ya,
kita begitu percaya pada yang dikatakan koran,
tapi kita sering mempertanyakan
apa yang dikatakan Al-Kitab
Lucu ya,
semua orang inginnya masuk surga
tanpa harus beriman, berpikir,
berbicara ataupun melakukan apa-apa
Lucu ya,
kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email/sms,
tapi bila ngirim yang berkaitan
dengan Tulisan Rohani sering mesti berpikir dua kali
JANGAN PANGGIL DIA TUHAN, ANGGAP DIA BAPA
Apa bedanya Tuhan di Indonesia? Pancasila mengenalkan kita bahwa Tuhan itu Esa. Walau agama di Indonesia sekarang lebih dari Lima (tidak termasuk sekte dan ajaran lain) tapi Tuhan tetap satu.
Cerita seorang anak yang sudah diberi limpahan rejeki tapi lupa bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan. Jadwal yang padat menyebabkan dia lupa berdoa dan menyadari kekurangan. Akhirnya anak tersebut dibawa pada dunia sosial yang menengah ke bawah, melihat orang lumpuh yang rela pergi kegereja walaupun hujan deras sedangkan anak tersebut memilih bangun siang ketika hari minggu pagi tiba. Anak tersebut juga bertemu dengan seorang ibu yang sebelum makan tanda salib ketika makan di warung nasi. Kasus kecil tersebut membuatnya merasa ditinggalkan Tuhan, padahal ulahnya sendiri yang meninggalkan Tuhannya.
Anak tersebut lalu ingat sudah terlalu lama meninggalkan doa dan gereja. Dia memulai kalimat dengan terbata-bata, lalu menangis. Ala bisa karena biasa, pikirnya. Anak tersebut merasa dirinya tidak layak dimata Tuhan. Depresi akan kehidupannya sekarang, minder dengan kesuksesan yang didapatnya, bahkan takut jika kesuksesannya menurun hanya karena lupa Tuhan.
Anak tersebut hampir gila, tertekan sekali. Otaknya mulai mencari kelemahan orang sekitar untuk disalahkan, meluapkan rasa kesal pada ketergantungan minuman keras dan obat terlarang, tapi ternyata pelarian tersebut salah.
Kemudian dengan rendah hati, dia mencari tempat untuk menempatkan Tuhan bersama dia. Menyempatkan diri bergaul dengan orang-orang yang telah dijauhinya, bahkan dilupakannya. Dia mulai belajar kembali mengucapkan kata TErIMA KASIH dan SYUKUR walau mendapatkan hal kecil.
11 Juli 2011
MULAI MENIKMATI KEKALAHAN
Memasuki tahun 2010, ada banyak perubahan yang saya alami. Jarang berkomunikasi dengan Tuhan, Sering menghabiskan uang jajan saya untuk hal yang tidak penting seperti berjudi dan mengkonsumsi alkohol. Saya tidak menyalahkan lingkungan sekitar saya yang tidak sehat, tapi kesalahan saya karena mau ikut rutinitas tersebut. Saya mulai menjauhi teman-teman komunitas Katholik yang selama ini membangun karakter saya. Saya mulai menjauhi para rekan kerja saya. Saya juga menjauhi teman kuliah saya. Saya juga mulai menjauhi Keluarga saya. Saya mulai menjauhi Tuhan.
Keberuntungan sepertinya belum saya temukan disini. Jika saya mencintai mereka karena hal yang berbeda, it’s ok, tapi ternyata saya membuang seluruh kesempatan untuk bertemu orang yang pernah saya kenal.
Saya seperti bertarung sendiri di dalam hidup saya, dan saya kalah. Saya minder karena di atur oleh situasi. Padahal dalam prinsip saya, tidak ingin berhenti sampai disini. Kematangan sebenarnya dibutuhkan untuk memahami kondisi, tapi banyak pertimbangan dan saya pendam kemudian akhirnya tumpah disaat yang tak tepat, ya sudah, akhirnya semuanya mentah.
Kecelakaan beruntun yang saya alami sebanyak tiga kali di tahun 2011 memang tidak merenggut nyawa saya, tapi mungkin bisa mengajari saya untuk memperbaiki diri.
Kecelakaan Lalu Lintas Pertama bulan september 2010 ketika mengantuk sewaktu mengendarai sepeda motor hingga jatuh dengan badan membentur aspal. Sempat masuk Rumah Sakit Santo Antonius selama 10 hari dengan tubuh dibalut disana sini.
Kecelakaan kedua di akhir bulan mei 2011, ketika buru-buru menyerahkan tugas pemetaan dipagi hari. Dagu saya menancap di plat motor ketika jatuh menabrak anjing yang tiba-tiba muncul. Saya dirawat inap selama 4 hari.
Kecelakaan ketiga tepat sehari sebelum perayaan sukuran pemberkatan pernikahan saudara ketigaku. Selesai nonton bioskop, kami menuju jalan diponegoro untuk mencari fastfood place untuk makan dan santai. Tapi ketika berbelok memasuki tikungan, dari belakang motor kami ditabrak oleh sedan hitam. Setelah sadar aku sudah ada di Rumah Sakit.
Saya belum tahu sampai sekarang kelemahan saya, jadi jika dinilai dengan logika 60%, emosi 40% yang saya dapat sekarang. Tidak ada yang menghibur saya, yang ada hanya menyalahkan. Saya terlanjur kecewa dengan diri saya.
Saya rasa Tuhan mengizinkan itu terjadi. Tuhan mencoba mendidik saya, tapi bukan memberi pelajaran.
Saya putuskan untuk mundur dari semua dunia yang pernah saya arungi, mulai dengan titik nol, hingga akhirnya normal kembali, dan kemudian saya menjalaninya.
13 April 2011
PERTEMUAN RADIO KOMUNITAS SE KALIMANTAN BARAT
Berangkat dengan hati nurani, VHR Media menjadi penggagas pertemuan yang bertempat di Hotel Merpati, tanggal 13 April 2011 kemarin.




