Saatnya perempuan bersuara,perempuan bergerak untuk perdamaian dan keadilan di kalimantan. Begitulah sepenggal kalimat sebagai penghias bunga yang dibagikan para perempuan disekitar bundaran UNTAN tepat jam 2 sore kemarin. Kegiatan ini di gelar pada tanggal 26-28 februari 2009 di Hotel Merpati. Massa perempuan bergerak dari tempat kegiatan menuju bundaran dengan berjalan kaki menempuh perjalanan kurang lebih setengah kilometer. Perempuan yang bergerak menuju bundaran Universitas Tanjungpura tersebut dikelompokkan dengan berbagai identitas diri seperti Perempuan Petani,Perempuan Masayarakat Adat, Perempuan Buruh, Perempuan Pedagang Kaki Lima/Usaha Kecil, Perempuan Miskin Kota, Perempuan dalam Sistim Pemerintahan, Guru Perempuan, tetapi tetap saja identitas umum perempuan dimasyarakat dikenal dengan sebutan Ibu Rumah Tangga, dan secara terpisah diberangkatkan dengan empat kloter komisi yang nantinya akan memnuhi empat sudut tugu bundaran Universitas Tanjungpura dlaam menyuarakan hak nya sebagai perempuan.
Harapan perempuan dalam Kongres Perempuan Kalimantan pertama ini adalah perempuan berani bersuara dan maju bersatu dalam jaringan untuk perdamaian dan keadilan. Harapan ini dirumuskan oleh seluruh peserta kongres setelah malam keakraban 25 februari 2009 kemarin. Menurut Nurfauzah dari Sekuduk, baginya damai adalah dapat makan, ibu-ibu bisa menyekolahkan anaknya, hidup sehat, punya pendapatan layak, tidak ada kekerasan, terlibat dalam membangun desa dan tentunya dapat berkumpul seperti ini (maksudnya melakukan pertemuan kelompok/diskusi bulanan) untuk saling berbagi informasi dan cerita.
Sesuai runut kegiatan, di mulai dengan penyambutan Deputi Kementrian Komisi Pemberdayaan Perempuan Dra. Sri Danti, Ma di pelataran Hotel Merpati tempat kegiatan kongres Perempuan Kalimantan berlangsung, di sambut meriah dengan tarian penyambutan tamu oleh penari sanggar SAPE’ serta pengalungan selendang kain tenun ikat sintang oleh dua orang perwakilan panitia pelaksana dengan mengenakan baju adat dayak sebagai perwakilan khas kalimantan, penari mengantar Deputi Kementrian menuju tempat duduk yang telah disediakan.
Narasumber yang di undang dalam seminar sehari ini antara lain, Silvana, Julia Kham dari Institute Dayakology, Dra.Sri Danti,MA selaku Deputi Kementrian Bidang Pemberdayaan Perempuan yang membahas Kebijakan Nasional tentang Hak Hak Perempuan untuk Perdamaian dan Keadilan Gender, Tekla Tirah Liah dari Yayasan Nurani Perempuan dengan materi Perempuan Merajut Perubahan, dan Elen peserta dari Kabupaten Landak sebagai salah satu perwakilan peserta berbagi cerita tentang Hak Perempuan dalam Keluarga dan Masyarakat dalam seminar sehari yang di gelar sehari setelah pers release oleh Panitia Pengarah dan wartawan di berbagai media lokal.
Dalam seminar sehari tersebut, diadakan Tanya jawab antara narasumber dan peserta seminar. Seperti halnya ibu Tri dari Kabupaten Bengkayang yang bertanya tentang korban yang melapor apakah dijaga kerahasiaannya oleh Bimbingan Konseling. Yuliati dari kabupaten sanggau dan Susana dari KWI Keuskupan Agung Pontianak menanyakan langkah–langkah apa saja agar tidak terjadi kesenjangan dan sejauh mana peran serta pemerintah dalam merealisasikan perdamaian dan keadilan gender di Kalimantan serta peserta lain yang menanyakan tindak lanjut Forum Pemberdayaan Wanita.
Menurut Julia Kham, salah satu panitia pengarah mengatakan bahwa kegiatan Kongres Perempuan Kalimantan Pertama ini merupakan mandat dari Konsultasi Regional Kalimantan II ( KRK II) diadakan bulan Mei 2007, yang diselenggarakan oleh Aliansi NGO untuk Perdamaian dan Rekonsiliasi (ANPRI). Menurutnya pula bahwa damai merupakan proses pemenuhan hak-hak asasi sosial, budaya, ekonomi, lingkungan dan politik seluruh kelompok masyarakat secara adil, terutama perempuan.
Tekla menuturkan tentang Periode perintis (1997-1999), diskusi formal maupun informal 10 orang perempuan sebagai bentuk upaya membangun kesadaran yang “sesungguhnya” yang dalam konteks gerakan perempuan tidak tersentuh, fakta bahwa persoalan perempuan terjadi dan di alami perempuan setiap detik kehidupannya. Keterlibatan peran perempuan sebagai pemelihara bumi dalam konteks pertanian tetap menjadi tradisi di akui oleh adat maupun masyarakat (laki-laki). Juga di dalam kehidupan lain seperti mengurus rumah tangga dan pekerjaan rumah lainnya.
Menurutnya pula bahwa kaum perempuan perlu meningkatkan daya kritis terhadap isu-isu lingkungan, isu perdagangan perempuan dan anak-anak, isu tata kelola pemerintahan serta terlibat dalam perencanaan dan penganggaran daerah. Jika itu terwujud maka muncul bentuk kesadaran dan keyakinan melakukan tindakan bersama (kaum perempuan sebagai pemilik kepentingan), untuk keluar dari berbagai bentuk ketidakadilan. Gerakan tersebut akan lebih luas dari kegiatan organisasi. Gerakan terus bertumbuh menuju arah cita-cita yang lebih besar dan jangka panjang dalam tatanan hidup yang berkemanusiaan dan bermartabat.
Menurut kepala badan pemberdayaan perempuan, anak, masyarakat dan keluarga berencana provinsi kalimantan barat di sela presentasinya menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah provinsi dalam mendorong hak-hak perempuan untuk perdamaian dan keadilan perempuan Kalimantan Barat pada umumnya tidak terlepas oleh budaya Pemenuhan kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan), Kegiatan usaha produktif, Akses terhadap sumberdaya sosial dan ekonomi, Pembebasan diri dari mental dan budaya miskin menurut penggolongan kualitas hidup manusia.
Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan dilakukan dengan menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan untuk menuju kesetaraan dan keadilan gender dengan memahami Konvensi CEDAW yang diratifikasi dengan UU No.7 Tahun 1984 Tentang Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita. UU ini merupakan Payung kebijakan yang terkait dengan 12 kritis Aksi Beijing hasil konferensi tahun 1995, juga sebagai landasan operasional MDG’s.
Terlepas dari semua itu, dalam realitasnya juga perempuan (terutama wilayah pedesaan) adalah pelaku utama sektor pertanian, namun umumnya, perempuan tidak memiliki akses dan kontrol secara langsung kepada alat produksi dan hak untuk mengambil keputusan. Peran perempuan disini sebagai penyedia pangan keluarga. Kondisi inilah yang mendasari kegiatan Kongres Perempuan Kalimantan pertama ini dan menggali potensi yang dimiliki oleh kelompok masyarakat perempuan, di samping membangun mitrakesejajaran dengan kaum laki-laki. Tidak hanya pangan, perempuan juga dibebani dengan permasalahan traficking, kekerasan dalam rumah tangga dan kurangnya akses pendidikan dikalangan perempuan.
Pemicu dari hal-hal tersebut adalah mengakar budaya patriarkhi (budaya yang menomorsatukan kaum laki-laki di segala bidang kehidupan, sehingga mensubordinasikan perempuan dengan memposisikan pada wilayah domestik). Proses sosialisasi budaya patriarkhi terjadi pada kehidupan pribadi sehari-hari seperti di dalam keluarga; Masyarakat dan Negara, sehingga secara sadar ataupun tidak terjadinya diskriminasi, ketidakadilan terhadap sebagian besar perempuan. Lelaki dan perempuan memang berbeda tetapi tidak untuk dibeda-bedakan, menurut Ibu Dra.Sri Danti,MA selaku Deputi Kementrian Bidang Pemberdayaan Perempuan.
Kemudian keesokan harinya di gelar Kongres yang terbagi atas empat Komisi yang membahas tentang visi misi, program kerja sebagai awal dari tindak lanjut kegiatan dari Kongres Perempuan Kalimantan ini.
Keesokan harinya, parade kemudian dilaksanakan setelah makan siang selesai, tepatnya jam dua sore. Para peserta dan panitia bersama-sama turun kejalan dengan berjalan kaki menuju bundaran Universitas Tanjungpura.
Theresia hanya, seorang ibu delegasi dari Kalimantan Timur berkali-kali menyerukan orasi tepat di bundaran UNTAN dengan mengajak para peserta untuk bersama-sama menegakkan hak perempuan dengan lagunya yg berjudul tarian sobat. "sobat sekalian,selamat bertemu ditempat ini. Tunjukkan persatuan sejati. Inilah jalan lurus, tujuan perdamaian dan menghasilkan segala kemajuan." Setelah orasi dan pembagian bunga selesai,peserta memenuhi lingkaran bundaran dengan bergandeng tangan dan sesekali mereka berteriak hidup perempuan.
Seorang polisi menghampiri aksi itu dan bergumam kepada salah satu panitia komisi A, katanya "istri saya dirumah tidak dikekang, malah saya bebaskan dari segala tugas rumah, tapi tetap aja saya was was kalo liat aksi kayak gini, takut istri berontak minta haknya". Nah lo, pak polisi tetep aja mikir kok bisa aksi kayak gini dipentaskan dibundaran Universitas Tanjungpura.
01 Maret 2009
KONGRES PEREMPUAN KALIMANTAN PERTAMA
11 November 2008
BELIAU
hiruk pikuk jalan tol menemani perjalananku hari ini. Usai penat meraja di tenggorokan, aku menikmati tempat duduk di bengkel yang tak jauh dari tol kapuas. kala itu, ban bocor tak terkendali. Aku merasa bersalah di buatnya sebab itu motor bang Hendra, abang nomer tiga yang tercatat di urutan Kartu Keluarga kami.
"De, ndak bise di tambal, bocor besar. Mending ganti, IRC 35 jak" ujar pemilik bengkel sekaligus montir disitu.
Aku tersenyum dan merogoh saku. Sisa 42 ribu. Cukuplah pikirku. Kemudian aku duduk lagi sambil melempar pandangan ke orang-orang yang lalu lalang. Dari sekian banyak orang disana, yang menarik perhatianku hanyalah Bapak penyapu jalan. Beliau seperti punya dunia sendiri. Dunia yang tak menghiraukan apapun kecuali kerja dan tanggung jawab. Aku menghampirinya dengan niat mendapat arti pengalaman darinya.
"Misi pak" aku memulai percakapan dengan cara itu.
Beliau menoleh "Silakan dek, lewat jak".
Nada ramah itu kusambut dengan menyodorkan tangan.
"Haha,bukan mo lewat pak. Saye dede, kebetulan tadi duduk disitu (bengkel). Dari tadi liat Bapak membersihkan jalan. Boleh pinjam waktunye untok ngomong-ngomong".
Beliau menjabat tanganku erat.
"Boleh,boleh. Bentar jak ye, soalnye kerjaan Bapak belom selesai".
Aku mengangguk. Rasa bersalah menyelimutiku karena menunda pekerjaannya.
Ditemani secangkir kopi di samping bengkel, kami bercerita banyak hal. Tentang Pontianak, tentang warga sekitar dan tentang beliau. Katanya, upah menyapu hanya 300 ribu perbulan tanpa embel-embel subsidi dari pemerintah. Dari gaji itulah beliau hidup. Menyapu jalan merupakan tugas berbahaya. Menurut beliau, seringkali pengendara motor hampir menabraknya ketik sedang membersihkan trotoar. Mungkin hal kecil akan lebih berguna jika diabdikan dengan tulus, itu menurut beliau. Aku menjabat tangan beliau untuk pamit karena hampir sunset. Senang mengenal beliau.
10 November 2008
TERHENTI
Kulihat mukanya bersimbah darah. Dua giginya jatuh ketanah. Aneh, dia menangis. Padahal lelaki itu sudah seumuran bapakku dirumah. Aku piker dia gila, meraung-raung di simpang empat lampu merah. Di tengah jalan pula. Selang beberapa menit, lampu hijau menyala di pihak kami. Kami berusaha lewat pinggir supaya tidak kena lelaki yang jatuh tadi. Tapi sungguh, raungan serta tangisan lelaki itu semakin kuat. Mendengung rasanya telingaku. Makin lama makin keras. Aku memberhentikan motor ku. Tiba-tiba ada yang menyentuhku katanya “de, bangun”. Aku terkejut lalu melihat sekeliling. Ternyata sudah pagi.
14 April 2008
Orang Muda Katholik

Akhirnya, setelah tiga minggu vakum di media blog, saya mencoba untuk menulis lagi tentang komunitas Orang Muda Katolik yang agaknya membuka kembali keberagaman komunitas muda katolik di lingkungan Paroki Stelamaris Siantan, tepatnya di provinsi Kalimantan Barat. Tahun 2008 ini setidaknya dapat menjadi momentum yang berharga bagi Orang Muda Katolik untuk sedikit membuka kepedulian kepada organisasi muda dilingkungan paroki yang semakin terpuruk. Ini didukung dengan pergantian kepengurusan pada MUSBER OMK tanggak 27 januari 2008 kemarin yang dihadiri oleh pembina sekaligus pastor Paroki, pembimbing harian Orang Muda Katholik, para pengurus lama OMK serta para undangan.
Tantangan awalnya ketika dibentuk organisasi Orang Muda Katholik ini adalah mendorong orang muda katolik untuk keluar dari logika kegiatan yang berbatas pada altar saja. Usaha ini akhirnya membuka paradigma lingkungan paroki Stella Maris bahwa tidak mengesampingkan orang muda dan agaknya kaum muda katolik lebih menikmati kinerja mereka sebagai aktivis muda gereja serta lebih bijaksana berperan pada zona paroki.Orang Muda Katolik sebagai bagian tak terpisahkan dari Gereja dan masyarakat tentunya menyadari masalah ini dan mau tak mau terpanggil untuk ikut terlibat dalam memperbaiki lingkup paroki Stella Maris Siantan yang semakin terpuruk.
Organisasi Orang Muda Katholik ini dulunya dinamakan MUDIKA (Muda Mudi Katholik) pada tahun 1978. kemudian sekitar tahun 1998, dengan diprakarsai oleh beberapa Orang Muda Katholik di paroki Stella Maris yang telah menggelar beragam aktivitas dalam membina kemampuan berfikir, bertindak dan berperan dalam keberagaman, nama organisasi MUDIKA mulai diganti menjadi KOMKA (Komunitas Orang Muda Katholik) atas dasar pemikiran serta keputusan para dewan-dewan paroki di Pontianak. Dan kembali nama organisasi Orang Muda Katholik diganti sejak memasuki tahun Yubilium atau tahun 2000. KOMKA manjadi OMK (Orang Muda Katholik) sampai sekarang. Kami hanya bisa berharap, nama organisasi Orang Muda Katholik ini tidak berganti lagi sebab kasihan yang masuk dalam lingkup kepengurusan orang muda, mereka seakan tidak memiliki status nama yang tetap.
Peralihan kepengurusan organisasi ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali atau dua periode. Para pengurus yang terlibat langsung dalam kepengurusan ini memiliki profesionalisme kerja di bidangnya. Dalam menjalankan kinerja sesuai dengan visi dan misi, para pengurus dituntut untuk mengedepankan tanggung jawab, kebijaksanaan, dalam pengambilan keputusan, rendah hati dalam berbuat dan melaksanakannya tugas dengan suka cita. Visi dan Misi Orang Muda Katholik itu di rencang di Tirta Ria pertengahan Mei 2007 yang nantinya diharapkan akan menjadi pedoman profesionalisme kerja baik para pengurus inti OMK maupun anggota OMK.
Kegiatan-kegiatan besar yang akan digelar Orang Muda Katholik di Paroki Stella Maris pada dua periode seperti:
1. LK (Latihan Kepemimpinan)
2. Bazaar OMK
3. Ulang Tahun OMK
4. Share Green OMK dekanat(Dialog Lingkungan Hidup)
5. Novena Kebangunan Orang Muda Katholik se-Dekanat kota Pontianak
6. Book Publishing
7. Ziarah ke Gua Maria Toho
8. Week End
9. Pembinaan Pengurus
inilah pekerjaan kepengurusan OMK 2008-2010 mendatang dimana banyak konflik internal yang terjadi dikalangan Orang Muda Katholik. Jika dahulu paradigma banyak lapisan yang mengatakan bahwa Orang Muda dianggap belum mampu untuk berorganisasi, maka sekaranglah saatnya Orang Muda Katholik menunjukkan bahwa mereka dapat menjadi penggerak Organisasi yang terorganisir.
13 Maret 2008
ALAM SUNGAI BANDUNG DI MENJALIN
Dalam bahasa dayak kandayatn Sunge berarti Sungai dan Banokng berarti kayu. Memang, kampung tersebut memiliki beragam jenis kayu yang tumbuh di tepian sungai mempawah. Di sana merupakan daerah berhutan dan bersumber mata air jernih. Air dari aliran Bukit Samabue yang terletak di sebelah timur kampung Sunge Banokng. Seakan belum terjamah teknologi. Kampung itupun kental dengan tradisi. Walaupun mayoritas penduduk kampung adalah orang dayak, namun mereka tetap menghargai ethnis lain seperti Jawa, Melayu dan Tionghoa. Mitos yang berkembang di sekitar mereka bahwa jika tidak ada keseimbangan antara moral manusia dan sistem pengelolaan daerah, maka alam akan menghukum dengan bentuk kesialan.
Sunge Banokng ini kategorikan satu binua dengan Menjalin, namanya Binua Manyalitn. Sejak tahun 1978 mereka sudah masuk dalam satu kelompok binua. Binua merupakan wilayah yang terdiri dari beberapa kampung yang dikelompokkan dalam binua yang sama karena memiliki tingkat usaha dan tuntutan moral garis pendapatan masyarakat di daerah itu. Pemimpin binua biasanya disebut dengan Timanggong. Timanggonglah yang berperan dalam pengendalian struktur moral serta tradisi yang nantinya menjadi ciri khas kampung tersebut.
Tataguna lahan Kampung Sunge Banokng termasuk dalam daerah dengan kegiatan pertanian yang menonjol. Jenis pemanfaatan lahan terdiri dari; tanah pemukiman warga, Sawah, Hutan Reservasi Komunitas, Kebun Karet, dan Timawakng yang keseluruhannya berjumlah 301,63 Hektar. Hal tersebut dapat dilihat dari pemanfaatan lahan di kampung tersebut.
Di kampung tersebut juga sarat akan organisasi-organisasi masyarakat yang membentuk beberapa tingkatan komunitas seperti Struktur Kepengurusan Kampung dipilihlah tuha tahutn, pengurus masalah pertanian. Selain itu ada Pangalangok Kampokng sebagai panglima perang jika terjadi wabah, huru hara, kerusuhan. Dan pangarah kampokng laki bini sebagai penyebar informasi warga yang sakit, meninggal dan mengadakan pesta besar. Selain itu ada Organisasi bernama Majelis Taklim. Sebuah organisasi yang merupakan perkumpulan religious bagi muslim yang ada di kampung itu. Ada juga organisasi yang bernama Sule Binua. Organisasi ini dimaksudkan untuk pemberdayaan bukan hanya masyarakat di kampung itu tetapi juga masyarakat dari daerah lainnya. Sule binua tidak identik dengan koperasi saja, tetapi juga membahas seputar forum internal kaum petani. Kegiatan ini memberikan dampak positif dalam meremajakan fungsi ekologis kampung yang makin terpuruk karena masuknya kekejaman ilegal loging dan tambang emas liar.
10 Maret 2008
PANGGIL AKU DAVID
Tiba-tiba sebuah mobil menyalip dan menyenggol motorku yang masih asyik menelusuri jalanan. gedubrrakk!! Begitulah kira-kira bunyi yang kuingat saat aku jatuh dan merasakan hantaman aspal. Ini bukan adegan laga atau tontonan menarik dalam sinetron silat betawi, kawan. Ini diibaratkan kecelakaan kecil yang bikin aku mikir sesaat untuk menunggangi motor lagi.
Panik? aku kira tidak. aku tidak termasuk dalam kategori masyarakat panik. tidak seperti orang yang panik saat ada kenaikan BBM, atau orang yang panik saat listrik padam satu minggu, dan akan panik saat istri sedang melahirkan. Aku? sekali lagi tidak. aku cukup beradegan bangun dari jalanan itu dan membetulkan motor, dan sesekali mengelus perutku yang mulai membuncit. Aku bangga karena aku tidak panik seperti contoh diatas bahwa aku alumni frater kapusin parapat 1986-1987 yang terlahir dengan nama david pada tahun 8 mei 1966 di bengkayang. Jadi kepanikan itu tidak boleh ku siratkan, apalagi dijalanan. Hehe, hebat bukan. Presiden harus bangga punya masyarakat seperti aku, tetap tenang walau sudah di senggol mobil, tetap menuju tempat tujuan walaupun nanti sampai disana agak telat.
Motorku ku rem tepat di depan kantor. Lalu aku masuk dan kulihat mereka hampir seluruhnya berkumpul di Dangau Pefor kecuali Dede. Kelihatannya dia dapat tugas photocopy lembaran yang akan dibagikan kepada kami. dia baru saja selesai mem-photocopy saat jam makan siang kantor sebentar lagi tiba. Seingatku, dede baru bergabung dikantor setahun yang lalu saat program kantor kami belum sepenuhnya berjalan. Dede merupakan koordinator media di Lembaga YPPN. Mungkin hanya hal itu yang aku ketahui darinya, selebihnya tanya saja dia.
Pertemuan kami kali ini lumayan bikin otak jalan. Temanya Narative Reporting atau kalo tidak salah artinya Jurnalisme Sastrawi. Sebagian dari kami mendengarkan penjelasan dengan gaya menyimak masing-masing. selebihnya, ada yang sibuk mengutak atik HP, ada yang memelototi laptopnya tanpa dia sadari nyamuk telah menggigit dengan ganas keningnya, ada yang menulis penjelasan sambil menggambar sesuatu, ada yang minum lalu batuk dan kesibukan-kesibukan yang membuat kami tetap menjadi peserta dalam Journalistic Training sampai jam pulang kantor tiba.
Pada penutupan pertemuan kami kali ini, kami di beri tugas menulis yang lumayan bikin kami senyum-senyum sendiri. Yang mesti kami teliti adalah staff-staff Lembaga yang berada disekitar kami pada saat itu. Alasannya karena kami sudah kenal satu dengan yang lain. Dan mau tahu siapa yang menulis tentang aku? Ya, tepat sekali. Staff yang menulis tentang aku adalah dede. dia akan mengungkap semua apa yang yang diketahuinya tentang diriku. siapa aku, mengapa aku disini, dan bagaimana aku sampai disini. Seperti halnya mengutip ceritaku tentang PDKT dengan sesilia, ibu para anak-anakku dan mengikat janji pernikahan tahun 2000 kemarin. Kini buah hati kami Fortune dan Aurora, menjadi pelengkap keharmonisan rumah tangga kami di Raba, tempat kediaman kami saat ini. dan itu yang diungkap oleh dede sekarang.
