PUBLISHED BY

alamuda

DESIGNED BY

jangan paksa aku berjalan jika aku ingin terbang

01 Februari 2009

MANUSIA DALAM LINGKARAN

Tidur merupakan harta termahal untuk orang sepertiku sebab aktivitasku menuntut banyak hal. Aku selalu memulai hari dengan bersyukur karena setiap hari diberikan kesehatan dan talenta untuk mengawali hari dengan lebih baik. Aku selalu mencintai pekerjaanku. Itu merupakan motivasi utama dalam menepati tanggung jawabku di setiap pekerjaan. Makna hidup orang sepertiku adalah bagaimana berguna bagi sesama serta menghasilkan hal bermutu dan bermanfaat lebih bagi seluruh orang terdekatku. Tapi ada hal yang juga membentur aturan peta kehidupanku adalah fakta yang menjelaskan bahwa pencinta kerja jarang untuk memulai pacaran lebih awal yang artinya mereka lebih memilih mengembangkan karir ketimbang mencari pasangan.

Aku, bagiku sendiri adalah seorang pencinta orang-orang disekitarku, tapi aku juga cinta pada kerja, sangat cinta kerja, bahkan lebih besar hasratnya untuk bekerja lebih giat ketimbang menemukan cinta sejati. Kata cinta sering melintas dengan sendirinya, aku terkesan tidak menginginkannya. Bahkan beberapa orang disekitarku menuturkan bahwa aku mati rasa. Aku selalu memberikan cinta kepada orang tersebut dengan sembunyi-sembunyi,tanpa dia harus tahu kenapa tak aku ungkapkan langsung padanya. Begitu pula dengan mereka yang mencoba mendekati, ku ajak mereka main labirin.

Aku jadi teringat kata pak florus, salah seorang motivator yang tinggal di pontianak utara, "ketika anda berhenti belajar, anda tidak layak untuk memimpin. Karena pemimpin perlu membaca sumber yang baik, meneladani orang hebat, rajin mencari informasi untuk bekal mengambil keputusan tepat". Aku tau makna perkataan itu dengan menyikapi keadaanku sekarang yang bagaikan mimpi buruk sebelum terlelap, seperti manusia robot, terpaksa tak kenal lelah walau seringkali otakku tegang dengan berbagai hal yang ditanggung-jawabkan kepadaku beberapa tahun ini. Aku ingin mengeluh tapi siapa yang peduli, mereka yang mendekati hanya ingin kesenangan saja.

Selanjutnya...

07 Januari 2009

TAK PERLU MONITOR LAGI

Bahagia rasanya tidak sikut-sikutan lagi jika ingin online dan search internet dikantor



Kini sudah bisa apa saja diseluler. Pengen edit blog,check mail,baca berita apa aja terbantu seluler.

Ini setelah Hi-Tech jadi aquarium yang kesekian kalinya karena kecelup air. Orang rumah bilang jadi keluarga nokia aja,biar tahan banting. Suku cadangnya juga terjangkau dan bisa dibeli dimana saja.

Aku pasrah. Tapi sekarang walaupun tanpa dilengkapi alat narsis (cybershoot), N-Gage QD tetap bisa bantu aku untuk searching walaupun aktivitasku menuntutku untuk mobile.

Jadi walaupun diutus untuk dinas lapangan ke desa-desa, tak perlu pakai monitor Computer yang ada Wi-Fi Eksternalnya atau refresh wireless lagi, search with phone aja, semua teratasi.

Selanjutnya...

03 Januari 2009

SHIO KERBAU ADA DI TAHUN 2009


Menurut ramalan shio, tahun 2009 dilambangkan dengan shio kerbau yang memiliki sifat dan karakter yang unik. Setiap shio, termasuk shio kerbau memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda antara yang 1 dengan yang lain. Namun dalam perhitungan ramalan shio, fengshui dan hongshui, ada keterkaitan dan saling mempengaruhi antara shio yang 1 dengan shio yang lain bahkan juga mempengaruhi zodiak bintang kelahiran anda. Seperti yang kita ketahui bersama dari berbagai ramalan para peramal jitu, ada 12 shio simbol binatang china yang mewakili siklus 12 tahun-an. Lambang binatang shio itu adalah Shio tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, shio ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan shio babi. Shio kerbau mewakili tahun 2009, 1997, 1985, 1973, 1961, 1949, 1937, 1925...Berikut sifat karakter shio kerbau tahun 2009 ini


Orang-orang yang berada dibawah shio kerbau memiliki sifat karakter pembawaan yang tenang, sabar dan sedikit pemalu. Ketelitian dari shio kerbau ini bisa diacungi jempol. Sebelum mengambil keputusan, ia selalu menganalisa dan mempertimbangkannya dengan cermat. Karena dari itu ia seringkali terhindar dari bahaya. Shio kerbau juga seorang pekerja keras dan tidak cepat putus asa bila menghadapi masalah dan kesulitan dalam hidupnya. Ia pun memiliki pendirian yang teguh dan selalu bersemangat dalam hidup . Karena itu, jangan heran shio kerbau ini tiba-tiba dapat mencapai sesuatu diluar dugaan orang lain. Sifat positifnya adalah alasan mengapa banyak orang yang simpati kepada dirinya. Karena ia selalu memiliki sopan santun dan mau mengintropeksi diri. Sifat karakter yang menarik lainnya dari shio kerbau adalah ia pandai mengatur uang dan waktu.

Yang patut disayangkan adalah karena sifat karakter pembawaanya yang seringkali terlihat lambat, shio kerbau jadi sering ketinggalan sesuatu, khususnya dalam menghadapi persoalan yang membutuhkan tindakan keputusan yang cepat. Dia suka menyendiri dan suka membanggakan diri sendiri, hal ini yang seringkali menghambat kemajuan dan perkembangan dirinya.

Pekerjaan yang cocok shio kerbau:
Teknisi, Fotografer, Receiptionist, Bidan, Petani.

Demikian sifat dan karakter shio kerbau di tahun 2009 ini, kiranya dapat membantu pengetahuan ramalan kita semua akan karakter-istik yang ada didalam shio kerbau. Sebagai pelegkap, Achiles juga akan memberikan keseluruhan 12 siklus tahun-an simbol shio dari tahun-tahun masing2 shio

Shio TIKUS
Tahun 1924, 1936, 1948, 1960, 1972, 1984, 1996, 2008
Shio KERBAU
1925, 1937, 1949, 1961, 1973, 1985, 1997, 2009
Shio MACAN
1926, 1938, 1950, 1962, 1974, 1986, 1998, 2010
Shio KELINCI
1927, 1939, 1951, 1963, 1975, 1987, 1999, 2011
Shio NAGA
1916, 1928, 1940, 1952, 1964, 1976, 1988, 2000
Shio ULAR
1917, 1929, 1941, 1953, 1965, 1977, 1989, 2001
Shio KUDA
1918, 1930, 1942, 1954,1966, 1978, 1990, 2002, 2014
Shio KAMBING
1919, 1931, 1943, 1955, 1967, 1979, 1991, 2003, 2015
Shio MONYET
1920, 1932, 1944, 1956, 1968, 1980, 1992, 2004, 2016
Shio AYAM
1921, 1933, 1945, 1957, 1969, 1981, 1993, 2005, 2017
Shio ANJING
1922, 1934, 1946, 1958, 1970, 1982, 1994, 2006, 2018
Shio BABI
1923, 1935, 1947, 1959, 1971, 1983, 1995, 2007, 2019

Selanjutnya...

SEJARAH TAHUN BARU

Kalender Romawi kuno menggunakan tanggal 1 Maret sebagai Hari Tahun Baru. Belakangan, orang Romawi Kuno menggunakan tanggal 1 Januari sebagai awal tahun yang baru. Pada Abad Pertengahan, kebanyakan negara-negara Eropa menggunakan tanggal 25 Maret, hari raya umat Kristen yang disebut Hari Kenaikan Tuhan, sebagai awal tahun yang baru. Hingga tahun 1600, kebanyakan negara-negara Barat telah menggunakan sistem penanggalan yang telah direvisi, yang disebut kalender Gregorian.

Kalender yang hingga kini digunakan itu menggunakan 1 Januari kembali sebagai Hari Tahun Baru. Inggris dan koloni-koloninya di Amerika Serikat ikut menggunakan sistem penanggalan tersebut pada tahun 1752. Kebanyakan orang memperingati tahun baru pada tanggal yang ditentukan oleh agama mereka. Tahun baru umat Yahudi, Rosh Hashanah, dirayakan pada bulan September atau awal Oktober. Umat Hindu merayakannya pada tanggal-tanggal tertentu. Umat Islam menggunakan sistem penanggalan yang terdiri dari 354 hari setiap tahunnya. Karena itu, tahun baru mereka jatuh pada tanggal yang berbeda-beda pada kalender Gregorian tiap tahunnya.

SEJARAH DAN CARA MERAYAKAN DI MASA LAMPAU

Kebanyakan orang di masa silam memulai tahun yang baru pada hari panen. Mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan untuk meninggalkan masa lalu dan memurnikan dirinya untuk tahun yang baru. Orang Persia kuno mempersembahkan hadiah telur untuk Tahun Baru, sebagai lambang dari produktivitas. Orang Romawi kuno saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Bulan Januari mendapat nama dari dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang). Orang-orang Romawi mempersembahkan hadiah kepada kaisar. Para kaisar lambat-laun mewajibkan hadiah-hadiah seperti itu. Para pendeta Keltik memberikan potongan dahan mistletoe, yang dianggap suci, kepada umat mereka. Orang-orang Keltik mengambil banyak kebiasaan tahun baru orang-orang Romawi, yang menduduki kepulauan Inggris pada tahun 43 Masehi.

Pada tahun 457 Masehi gereja Kristen melarang kebiasaan ini, bersama kebiasaan tahun baru lain yang dianggapnya merupakan kebiasaan kafir. Pada tahun 1200-an pemimpin-pemimpin Inggris mengikuti kebiasaan Romawi yang mewajibkan rakyat mereka memberikan hadiah tahun baru. Para suami di Inggris memberi uang kepada para istri mereka untuk membeli bros sederhana (pin). Kebiasaan ini hilang pada tahun 1800-an, namun istilah pin money, yang berarti sedikit uang jajan, tetap digunakan. Banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, yang merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dan teriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka.

PERAYAAN MODERN

Sekalipun tahun baru juga merupakan hari suci Kristiani, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Amerika. Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember, di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang menerikkan "Selamat Tahun Baru" dan menyanyikan Auld Lang Syne.

Pada tanggal 1 Januari orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi: Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba futbol Amerika Rose Bowl dilangsungkan di Kalifornia; atau Orange Bowl di Florida; Cotton Bowl di Texas; atau Sugar Bowl di Lousiana.

Selanjutnya...

02 Desember 2008

FOTOGRAFI ADALAH BUDAYA VISUAL

fotografi adalah kerja ilmiah panjang mewujudkan mimpi mengabadikan pantulan citra di cermin. Mimpi melanggengkan apa yang pernah kita lihat atau lakukan dan menjadikannya jejak (atau bahkan saksi) sejarah yang kita bangun. Rekaman visual dalam bentuk lukisan dan karya grafis, selain terlalu mahal, dianggap tak lagi memenuhi tuntutan kecepatan dan efisiensi modernitas. Fotografi adalah bagian dari percepatan zaman yang terobsesi efisiensi mekanis.

Di lain pihak, di tengah seluruh keterdugaan fotografi, pencarian terhadap faktor-faktor tak terduga dari medium ini menjadi obsesi tersendiri di kalangan fotografer. Mereka berusaha mencari dan menampilkan unsur-unsur nonmekanis dalam karya-karya mereka, yang tidak lagi bisa diukur secara teknis. Para fotografer potret, berusaha merenggut ke luar dan menampilkan nyawa, karakter, dan keunikan individual subyek-subyek yang mereka potret. Sehingga apa yang kita lihat di dalam foto bukanlah sekadar tampilan luar tapi juga pancaran kedalamannya. Namun untuk mencapai kualitas itu, para fotografer tak bisa tidak harus menggunakan kemungkinan-kemungkinan teknis yang disediakan fotografi.

Optimisme yang didasarkan pada rasionalitas fotografi sebagai hasil dari teknologi itu ternyata harus berhadapan dengan bentuk irasionalitas lain. Pemujaan magis dan religius pada karya seni yang telah disekulerkan oleh reproduksi mekanis, ternyata berhasil membangun tradisi otentisitas baru yang tidak lagi perlu bergantung pada ketunggalan, tetapi dengan memasukkannya ke dalam sistem yang mengendalikan karakter alamiah reproduktifnya. Sebab di ruang itu aspek estetis fotografi-lah yang mengemuka, mengesampingkan potensi makna lain yang ditanamkan ketika foto itu dibuat. Museum dan galeri-lah yang mengubah fotografi menjadi obyek yang melulu diperhatikan kualitas estetisnya: menjadi obyek seni. Tahap selanjutnya adalah membangun nilai finansial obyek tersebut, mengikuti tradisi dan aturan main dari seni rupa yang lebih dulu terbentuk.

Sampai sekarang, perbincangan ini masih terus berlangsung sebagaimana tampak jelas dari bermacam karakter yang dikembangkan berbagai festival foto di dunia, dari festival yang mengeksplorasi batas fotografi dokumenter dan seni, festival yang memberi ruang lebih lebar pada kemungkinan-kemungkinan fotojurnalistik, sampai festival yang dipenuhi galeri-galeri yang mewakili fotografer/seniman dan memasarkan karya mereka. Namun, praktek-praktek ini masih terlalu dini untuk dijadikan acuan melihat perkembangan fotografi dan seni.

Namun, di lain pihak, melihat fotografi dengan perspektif kualitas formalnya belaka, melalui kaca mata seni rupa, sebenarnya mengesampingkan sebagian besar praktek fotografi lainnya: jurnalistik, mode, iklan, dan tentu saja snapshots (foto-foto yang dibuat dengan ketulusan). Foto KTP, paspor, sinar X, mikroskopis, makroskopis, foto ulang tahun, perkawinan, foto studio komersial yang tersebar di setiap penjuru adalah keseharian modern kita. Citra-citra fotografis inilah yang memengaruhi cara kita berpakaian, makan, berpikir, berpendapat, dan bahkan cara kita lahir dan mati.
Kedekatan fotografi pada realitas yang bersejajar dengan kecenderungan kita untuk lebih percaya apa yang kita lihat (seeing is believing), membuat perpanjangan hubungan kita dengan realitas kita terima sebagai realitas itu sendiri. Susan Sontag menyebut gejala ini sebagai super-tourism. Layaknya pelancong zaman sekarang, keberadaan, pengalaman, dan hubungan dengan tempat yang dikunjungi seolah tidak pernah ada bila tidak ada foto yang menjadi bukti. Memori kita pun kemudian tidak mengacu pada pengalaman kita langsung, tetapi pada foto yang menunjukkan keberadaan kita di sana.

Penerimaan kita terhadap informasi yang diberikan foto sering kali mengandaikan begitu saja (atau abai pada) praktek-praktek yang dilakukan saat pembuatan foto tersebut, dan hanya berkonsentrasi pada fotonya. Sehingga kosakata yang kita pakai untuk sebuah foto sering kali tak ubahnya seperti pertemuan langsung dengan apa yag ditampilkan foto tersebut.

Dunia kita semakin visual. Semakin lama kita semakin rapat dikelilingi citra yang semakin canggih. Seakan kata perlahan digantikan citra. Waktu yang kita habiskan untuk membaca semakin dikurangi waktu kita untuk menonton. Semakin jarang kita merekam pengalaman dengan catatan buku harian, sebab melihat foto atau video-nya jauh lebih menyenangkan. Namun, walaupun kita sudah begitu terbiasa menerima segala yang datang secara visual, tidak otomatis kita aktif pula secara visual, sebagaimana otak kita aktif bekerja mencerna kata, huruf, dan tulisan. Terhadap citra, terlalu banyak hal yang kita andaikan, tanpa pernah perlu memeriksa lebih jauh pemahaman kita atasnya. Sebab, kita tak pernah dididik secara sistematis untuk itu.
Para penulis budaya visual, termasuk di dalamnya para teoritikus fotografi, iklan, film, dan televisi, sering mengingatkan bahwa pada dasarnya dunia datang kepada kita pertama-tama secara visual. Kita mengenali ibu kita sebelum kita mampu menyebutnya "ibu", apalagi menulis kata "ibu". Kita juga melihat bentangan waktu yang sangat panjang antara lukisan pertama dan tulisan pertama di dunia. Lebih banyak contoh dapat diberikan untuk menunjukkan bahwa dunia literal yang menguasai kesadaran kita sekarang relatif lebih muda dibandingkan dunia visual. Karena itu yang kita butuhkan sekarang adalah kembali ke dasar pemahaman kita dulu, yang bersifat visual. Kita perlu mengasah kembali kesadaran dan kepekaan visual kita yang sebenarnya sudah pernah kita pakai sampai kita mengenal kata dan bahasa.

Selanjutnya...