Kue Keranjang disebut juga sebagai Nian Gao (年糕) atau dalam dialek Hokkian Tii Kwee (甜棵), namanya di dapat dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang. Makanan ini adalah kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket. Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaan tahun baru Imlek, walaupun tidak di Beijing pada suatu saat. Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang tahun baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek).
Dipercaya pada awalnya kue, ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada raja Surga (玉皇大帝,Yu Huang Da Di). Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. Kue keranjang diproduksi banyak kota, salah satunya adalah di Bogor danYogyakarta.
Asal-usul nama kue keranjang yang memiliki nama asli Nien Kao atau Ni-Kwee yang disebut juga kue tahunan karena hanya dibuat setahun sekali pada masa menjelang tahun baru Imlek. Di Jawa Wetan disebut sebagai kue keranjang sebab dicetak dalam sebuah "keranjang" bolong kecil, sedangkan di Jawa Kulon diberi nama Kue Cina untuk menunjukkan asal kue tersebut yaitu Cina, walaupun ada beberapa kalangan yang merujuk pada suku pembuatnya, yaitu orang-orang Tionghoa. Sedangkan dalam dialek Hokkian, tii kwee berarti kue manis, yang menyebabkan orang-orang tidak sulit menebak kalau kue ini rasanya manis.
Di Cina terdapat kebiasaan saat tahun baru Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun.
Nien Kao atau Nian Gao, kata Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Kue yang terbuat dari beras ketan dan gula ini dapat disimpan lama, bahkan dengan dijemur dapat menjadi keras seperti batu dan awet. Sebelum menjadi keras kue tersebut dapat disajikan langsung, akan tetapi setelah keras dapat diolah terlebih dahulu dengan digoreng menggunakan tepung dan telur ayam dan disajikan hangat-hangat. Dapat pula dijadikan bubur dengan dikukus (di-tjwee) kemudian ditambahkan bumbu-bumbu kesukaan.
18 Juni 2009
KUE KERANJANG
05 Mei 2009
KULINER ULAT SAGU
Nama latinnya adalah Rhynchophorus ferruginenus atau lebih dikenal sebagai ulat sagu.Ulat ini adalah larva dari kumbang merah kelapa. Sebagai sumber protein ulat sagu bisa dijadikan bahan subsitusi pakan ternak atau juga lauk bergizi yang bebas kolesterol. Ulat ini hidup di batang sagu yang membusuk. Biasanya ia akan muncul pada batang pohon yang telah selesai di ambil sagunya. Membusuknya batang pohon akan memancing kedatangan kawanan kumbang untuk bertelur di sana. Nah, ulat yang berasal dari telur yang menetas.Kandungan protein ulat sagu sekitar 9,34%, sedangkan pakan berbahan utama ulat sagu sekitar 27,77%. Selain kandungan protein yang cukup tinggi, ulat sagu juga mengandung beberapa asam amino esensial, seperti asam aspartat (1,84%), asam glutamat (2,72%), tirosin (1,87%), lisin (1,97%), dan methionin (1,07%).
Setelah dibersihkan ulat sagu digoreng agar bagian luarnya renyah, tetapi tidak sampai pecah agar cairan di dalamnya masih utuh. Kidu goreng ini kemudian dimasak sebentar dengan bumbu kunyit, kemiri, bawang merah, bawang putih.
Rasanya? Hmm... Bagian luarnya renyah, bagian dalamnya “pecah” ketika digigit dengan rasanya seperti sumsum halus. Mungkin karena ulatnya sudah digoreng, maka saya tidak merasakan sensasi santan mentah. Bagian mata ulat bahkan menimbulkan sensasi yang istimewa ketika dimakan, renyah tenan. Kemudian mengucurkan cairan kental yang gurih dan lembut di dalam perutnya.
Sejarah Ulat Sagu
Sagu merupakan tanaman rumpun dan berkembang biak dengan membentuk anakan. Batang sagu mengandung pati (karbohidrat), dan biasanya dipanen setelah berumur 8-10 tahun. Namun jika tanaman dibudidayakan dengan baik, sagu dapat dipanen pada umur 6-7 tahun. Limbah dari hasil panen pohon sagu bermacam-macam dan umumnya belum dimanfaatkan. Salah satu limbah tersebut adalah pucuk batang sagu (1-2 m). Limbah ini dapat menjadi tempat bagi kumbang merah kelapa (Rhynchophorus ferrugineus) untuk meletakkan telur. Larva kumbang merah kelapa dikenal sebagai ulat sagu.
Kumbang merupakan hama tanaman palma seperti sagu, kelapa sawit, enau, dan nipah. Kumbang biasanya hanya tertarik untuk meletakkan telur pada tanaman yang telah mati, bagian pohon kelapa yang luka, dan pucuk atang sagu sisa penebangan. Tanaman kelapa yang terserang kumbang ini ditandai dengan daun terkulai karena pangkal daun dimakan oleh larva. Larva atau biasa di kenal dengan ulat sagu ini belum dimanfaatkan secara komersial. Padahal sudah banyak orang tahu bahwa ulat sagu prospektif sebagai sumber protein tinggi.
Ulat sagu dapat diperoleh dari alam, yaitu dari limbah panen pohon masak tebang, kurang lebih 1-2 m pada bagian atas batang hingga pucuk. Panen ulat sagu secara alami dilakukan dengan mencari limbah pucuk atau batang sagu yang telah berumur 30-40 hari setelah ditebang. Untuk mengetahui dalam gelondongan (batang) sagu terdapat ulat, dilakukan dengan cara mendengar. Bila terdengar ada suara benda bergerak berarti di dalam gelondongan tersebut terdapat ulat sagu. Ulat diambil dengan cara membelah batang dan biasanya ulat terdapat pada alur makannya. Jumlah ulat sagu yang dihasilkan setiap gelondong sagu, baik pucuk maupun batang, beragam. Variasi ini dipengaruhi oleh: 1) lamanya waktu pembusukan batang (gelondong) sagu untuk berkembangnya larva hingga dipanen, 2) volume batang atau gelondong yang mencerminkan kandungan karbohidrat sebagai sumber makanan larva, dan 3) faktor lain seperti jumlah kumbang betina yang meletakkan telur pada gelondong.
Sebagai proses runut terbentuknya larva pada batang sagu, kemudian penulis melakukan penelitian. Kumbang biasanya terbang pada siang hari dan senang hinggap di batang sagu (juga batang tebu) yang telah ditebang dan agak membusuk. Pada waktu akan bertelur, kumbang betina membuat lubang dengan sungutnya pada bagian batang yang luka atau busuk (layu). Lubang sedalam 3 mm diisi 400-500 butir telur. Periode bertelur berlangsung 1-3 bulan. Telur akan menetas dalam 2-3 hari. Larva yang baru menetas masuk ke dalam pucuk batang dan memakan jaringan yang lunak serta membuang bagian yang berserat ke luar lubang, sehingga di luar lubang akan terlihat adanya getah dengan kotoran dan bekas makanan yang berbau tajam.
Periode larva berlangsung sekitar 2 bulan. Larva dapat tumbuh hingga panjang 5 cm dan lebar bagian tengah 2 cm. Saat akan menjadi pupa, larva membuat kepompong dari serat berbentuk silindris. Fase pupa berlangsung 2-3 minggu. Daur hidup kumbang kelapa lebih kurang 3,50-7 bulan. Waktu panen ulat sagu terbaik adalah pada larva instar berumur 39-45 hari sejak gelondong sagu ditemukan berulat dan biasanya larva telah memiliki bobot masing-masing 4,10–5 g dan 5,10–6 g.
25 Maret 2009
ATHIANG PINYUH CEPAT SAJI
Ketika lewat di bundaran terminal desa Pinyuh arah kota Mempawah Kabupaten Pontianak, ada sederet kawasan kuliner jalur kiri, salah satu rumah makannya bernama "ATHIANG". Tidak sulit mencari rumah makan ini karena di tandai dengan plang nama yang cukup besar jika di pandang dari kejauhan. Sajian makanan khas yang terkenal di tempat kuliner ini yakni nasi campur cepat saji dan air teh es manis. Sajian tersebut meningkatkan selera makan kita, apalagi jika sedang mengadakan perjalanan jauh.
Cara memesan makananpun sangat unik, belum sampai di dalam rumah makan, kita sudah di sambut dengan koki cepat saji yang murah senyum yang menawarkan menu di dekat tempat masak besar dilengkapi tungku dan sederet gantungan daging dan sayuran. Tempat masaknya terletak di depan rumah makan, jadi kelihatan cara penyajiannya. Harga nasi campur tersebut Rp 14.000,- saja.
01 Februari 2009
GADO GADO ENGLISH VERSION
Gado gado is one of the typical food Indonesia that very in liking the society and to get it not hard because this food detectable in various area. besides liked by society, gado gado also giving many the benefit very good for growth because we know gado gado materials is made of the vegetable containing many worthwhile fiber for digestion system and containing many vitamin C that functioning as antioxidant. It is such as elaborated that gado gado base materials is vegetable and not difficult to get it. Here is elaborated by the benefactor materials and raw material gado gado. Raw Materials, consist of the vegetable type be like bean sprouts, cucumber, string bean, kol, potato, corm leaf, and kangkung. Benefactor Materials, consist of the bean, lontong, tempe, soybean cake, egg braise and crisply.
Besides the benefactor materials, gado gado also need some flavors. Be like aphorisms tell that "vegetable without flavor hence vegetable will felt insipid or not delicious". Hence for flavor gado gado is as follows: peanut, chili, salt, demurral, vinegar eats, or orangeade nipis, koempheria galanga, garlic (fried beforehand).
For measure to the number of raw materials, benefactor materials and the flavor to one portion cannot be measured by means of weighing-machine, become to know how to the number of used materials, used by estimate how many gado gado the ready for served without lessening its delicacy. Concerning price gado gado buyers not necessarily doubt because it price is cheap relative and reached. If one portion gadi gado is usually sold at the price of Rp 7000, - (seven thousand rupiah.
For distribution, we must go to place for sale gado gado, like lesehan house which is have place in market area. Because we know that market is place the meeting of buyer and seller. In place this surely many people wishing feel various foods to sprag the stomach because peckish. So that the people can stop by to booth lesehan to enjoy gado gado. Besides near by market is also open the canteen branch at elbow white colars. Because the seller also hope officers not necessarily go far to rest for lunch, enough just come in that canteen.
